29 Hari - cerpen

Rabu, Mei 09, 2012 4 Comments A+ a-


Waktu itu hujan turun cukup deras. Seharusnya kami sudah berada dirumah masing masing. Kami terjebak hujan. Hujan memenjarakan kami di ruang kelas ini. Aku, dia dan mereka, sepertinya enggan membasahi diri dengan guyuran hujan. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 5menit yang lalu. Tapi tak ada satupun siswa yang beranjak dari kelas. Hujan semakin lebat.

Beberapa siswa saling berbicara satu sama lain. aku juga berbicara, berbicara pada hatiku. Aku hanya berbicara dengan frekuensi tertentu dan amplitude yang tak semua orang bisa mendengarnya. Beberapa saat kemudia, dia menyapaku. Seseorang yang duduk dibelakang kursiku. Seorang laki laki menanyakan kenapa aku tak pulang. Pertanyaan aneh, dengan jawaban yang sudah pasti. Bahkan tak ada satupun yang keluar  kelas, termasuk ibu guru. Semuanya menunggu hujan reda. Aku jawab dengan jawaban yang secukupnya. Aku menghiraukanya. Aku dan teman sebangkuku saling berbincang. Kenapa hujan ini tak kunjung reda.


Beberapa saat kemudian, dia mengajakku bicara lagi. Dia bertanya tentang tugas yang kemarin, apakah aku sudah mengerjakanya apa belum. Pertanyaan klasik siswa-siswa malas, ujungnya akan meminjam buku catatanku dan ntah kapan akan mengembalikan.
Tapi tetap saja aku jawab dengan jawaban seperlunya saja. Sudah . Dia kembali diam. Aku kembali berbincang dengan teman sebangku ku, seorang wanita juga yang seumuran dengan ku. Kami membicarakan tentang film korea terbaru. Apalagi yang bisa kami bicarakan selain laki-laki tampan dan romantis yang ada di film keromantisan dan ketakjuban kami terhadap para arti korea itu. Tak terkalahkan dengan suara hujan yang semakin keras menghantam bumi. Suara itu tak asing lagi bagi ku. Suara hujan.

Beberapa detik kelas menjadi hening, tak ada suara, semua mendengarkan hujan yang turun semakin deras. Mungkin bisa satu hinga dua jam kami berada disini. Terjebak hujan. Kemudian kelas kembali ricuh. Semua saling berbincang, aku tak tau apa yang mereka bicarakan, sepertinya obrolan tentang yang lain. aku tak tau.
Laki-laki yang duduk dibelakangku, tertunduk diatas meja. Diam tak bersuara. Sepertinya dia sudah kehabisan pertanyaan. Sesekali aku memperhatikan dia tanpa sepengetahuannya. Kukira sudah tak ada lagi pertanyaanya dari, Tapi beberapa saat ternyata ia kembali bertanya padaku. Besok pelajaranya apa tanyanya. Ku jawab lagi dengan seperlunya, ku tahu dia pasti masih ingat pelajaran hari minggu itu apa. Aneh. Laki-laki itu yang juga seumuran denganku, tertunduk kembali. Seperti ada yang mengganggunya dalam lamunan khayalnya. Sepertinya ia sedang begitu sedih, tapi aku tak menanyakanya, mungki pertanyaanku akan membuatnya semakin sedih.

Ah, sudahlah aku tak mau menghiraukanya. Dugaanku sebentar lagi ia pasti berbicara padaku. menanyakan sesuatu yang sepatunya tak perlu kujawab. Dalam hatiku berkata sekali lagi ia bertanya tak akan kujawab. Benar dugaanku, ia kembali berbicara kepadaku. Namun kali ini ia tidak bertanya, ia berterimakasih. Aneh. Terimakasih apa, aku tak mengerti. Ia mengulurkan sebuah buku catatan miliku yang ternyata ia pinjam beberapa hari yang lalu. Aku tidak lupa. Hanya saja aku tidak menagihnya. Aku berharap dia mengingat tanggung jawabnya mengembalikan buku itu, karena buku itu bukan miliknya. Aku semakin bingung kepada laki-laki ini.

“ Sama-sama “ jawabku. Aku kembali berbincang dengan teman sebangku ku. Kami tidak lagi membicarakan artis korea, walaupun kami sepertinya tidak pernah bosan tapi kami lelah. Lelah menunggu hujan yang tak kunjung berhenti.

Kembali suara dengan nada yang sama bertanya kepadaku, tapi kali ini pertanyaanya membuatku bingung. Sebenarnya aku tak inign menjawabnya. Ia bertanya seolah aku begitu mengerti, tapi aku tak begitu mengerti pertanyaanya, dia bertanya tentang perasaan kehilangan. Apa itu kehilangan, aku balik Tanya kepadanya, . kehilangan seseorang yang kita sayang tanyanya. Aku terdiam. Ntahlah aku tak mengerti apa yang harus kukatakan. Sepertinya kali ini begitu serius, aku bisa melihat dari tatap matanya. Dia seolah benar-benar kehilangan orang yang ia sayang. Sepertinya matanya berbicara kepadaku dan meminta membuatnya mengerti apa arti kehilangan. Sebenarnya aku tak ingin menjawabnya. Pertanyaan itu begitu sulit bagiku. Aku tak mengerti rasanya kehilangan. Kehilangan yang ia maksud, kehilangan orang yang ia sayang.

Kucoba jawab pertanyaanya. “ aku tak tau apa maksudmu, jika maksudmu kehilangan seseorang yang kamu sayang, pasti sedih rasanya. Karena dia begitu berharga bagimu. “. Sepertinya jawabanku ini begitu mengena baginya. Ia merasa teringat oleh seseorang yang ntah siapa, pikiranya melayang jauh, terbang. Dia berterimakasih kepadaku, dan kembali tertunduk.

Oh hujan.., segeralah engkau pergi dan berganti dengan sinar mentari. aku tak mau semakin lama disini, semakin banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab darinya. Aku ingin pergi, namun aku pun terdiam. Seolah pikiranku teringat pada seseorang yang dulu pernah membuatku merasa sakit hati. Laki-laki itu membuatku patah hati. Aku kecewa padanya. Ia adalah seseorang yang tak pernah menganggapku kekasihnya. Seseorang yang jarang sekali bertegur sapa denganku. walaupun kami punya hubungan special tapi ia seperti tak mau menenemaniku dalam sedihku. Seolah ia membiarkan aku selalu sedih sendiri. Dia sepertinya enggan berbagi kesenangan denganku. aku heran kepada laki-laki itu, duapuluh sembilan hari kami bersama. Tapi apa yang kami lewati berlalu begitu saja. Setelah sekian lama ia mencintaiku dengan caranya. Pada hari ke dua puluh sembilan ia meninggalkanku.

Aku hanya berpikir laki-laki itu pasti memiliki wanita lain yang begitu juga ia kasihi, tapi setiap ku bertanya kepadanya ia menjawab yang membuatku semakin penasaran  dan seolah aku yang menjadi korban. Aku heran kepadanya. Dia laki-laki tak pernah mau membuatku melupakanya, bahkan ia berkata padaku menicintai aku pun tak pernah. Selama dua puluh sembilan hari aku seolah disiksa olehnya, setelah bertahun-tahun ia menjadi orang yang begitu mengaggumiku dalam sisi gelapnya. Aku tak pernah tau jika ia tak mengatakanya dua semebilan hari yang lalu.

Suara hujan ini seperti nyanyian lagu yang begitu pilu, aku teringat denganya. Laki-laki yang melupakanku dengan mudahnya. Tapi ia mencintaiku. Mencintai dengan diamnya. Ia begitu misterius, bahkan sebelum dan sesudahnya. Banyak hal yang setiap hari aku tanyakan kepadanya, terutama wanita lain itu yang dikabarkan dekat dengannya. Kabar burung yang dari sahabatku sendiri aku percayai itu, aku selalu menanyakanya kepadanya. Yang ku Tanya kepadanya, adalah apakah ia benar-benar mencintaiku. Apakah ad wanita lain yang ada dihatinya. Tapi kali itu ia menjawab dengan benar-benar tegas dia mencintaiku, tak ada orang lain dalam hatinya.  Aku sedih. Aku tak percaya olehnya. Aku begitu merasa dibohongi saat ia bilang, terserah jika tak mau percaya padaku. seolah aku yang mengharapkanya untuk mencintai aku. Aku bingung. Aku merasa aku tak ada artinya lagi baginya, setiap kutanya jawabanya tak ada yang meyakinkanku. Aku pun tak mengerti mengapa ia begitu kepadaku. Aku tak mengerti mengapa, jangan tanyakan aku lagi. Aku merasa disakiti oleh orang yang aku sayang. Tapi apa ia menyangangi aku sesungguhnya, pertanyaan itu kembali muncul.

Hari ke duapuluh sembilan, setelah beratur-ratus pertanyaanku tentang apa arti diriku padanya, yang jawabanya seolah tak pernah pasti, setiap kutanya dia mencoba mengalihkan perbincangan, ia seolah takut aku akan mengetahui hal-hal yang ntah apa ia rasakan. Hari ke 29, ia sudah tak mengerti lagi harus menjawab apa, semua pertanyaanku setiap ia jawab selalu saja menimbulkan masalah baru. Krisis kepercayaan. Aku kehilangan. Ia katakana padaku, sudah cukup semuanya . kita tak perlu lagi memiliki ikatan special ini. Anggap saja kita teman biasa.

Aku menangis,. Air mataku menetes. Aku wanita, tentu saja aku tak mau mengatakanya padanya .kalaupun aku mengatakan aku berkata seolah olah aku tak pernah menangisinya. Baiklah jika ia mau seperti itu, semua jawabanya seolah tak pernah buatku merasa yakin kepadanya. Dia selalu membuatku bingung dengan keadaan ini. Tapi diakhir cerita ia kembali menegaskan kepadaku, bahwa tak ada yang lain dihatinya.
Aku tak mau mempercayainya. Dia selalu berkata membuatku pusing. Dua puluh sembilan hari adalah bayaran yang tidak cukup pantas dengan bertahun-tahun sebelum ada hubungan special ini.  Aku kecewa kepadanya. Dia pergi.

Hujan mulai reda, perlahan siswa-siwa keluar kelas. Termasuk aku. Tapi perasaanku masih tertinggal dengan khayalanku tentang laki-laki yang pernah membuatku merasa kehilangan. Laki-laki dalam hatiku ntah dimana keberadaanya . laki-laki yang selama beberapa tahun, menebusnya dengan dua puluh sembilan hari.


4 comments

Write comments
yopynov
AUTHOR
Jumat, Mei 11, 2012 delete

cieeee agan satu inii, cucok deeh ;) kyknya kmu blm follow blog ku jan dr akun yg ini..

Reply
avatar
Janu herjanto
AUTHOR
Jumat, Mei 11, 2012 delete

@njoop, sekedar menulis cerpen njoop, dari pada terkubur dalam pikiranku.
udah aku follow blog mu..

Reply
avatar
Kharismoy
AUTHOR
Jumat, Mei 11, 2012 delete

twenty nine days, banyak sebenernya yang mau aku tanggapin dari smua ini

Reply
avatar
Janu herjanto
AUTHOR
Jumat, Mei 11, 2012 delete

ditunggu kritik dan saranya..

Reply
avatar

terimakasih atas kritik dan saran serta komentarnya yah, :) thanks,...