Jalan jogja












sepucuk bunga yang mulai layu

Malam ini di kamar yang tak juga begitu luas ini , mungkin seukuran penjara untuk tahanan yang ada di kantor polisi. Kamar ini berukuran sekitar 3 x 3 meter persegi bedanya dengan penjara disini ada sebuah lemari, kasur dan meja belajar yang tertata rapi. Hari ini hari ulang tahunku ke 19 tahun. Saat ini, pukul 11.30 sebelum hari berganti, aku sudah siap dengan sebuah roti dan sebuah lilin kecil diatasnya. Aku bersiap merayakan hari ulang tahunku sendiri. ya, sendirian di kota perantauan. Ini tahun pertamaku merantau jauh dari orang tua, keluarga, teman, sahabat dan cerita yang ku tinggalkan di kampung halaman.

Malam ini akan menjadi hari spesial dalam hidupku ku pikir begitu, sebelum aku melewati malam pertambahan umur ini mengubahku untuk menjadi lebih dewasa. Malam ini rasanya tak ada yang lebih ku tunggu dari pada ucapan ulang tahun dari seseorang yang sudah 3x berturut-turut selalu mengucapan tepat pada waktu hari berganti. Pukul 0.00 Tepat!.

Ada yang berbeda malam ini yang tak mungkin aku terima yaitu ucapan "selamat ulang tahun" langsung dari dirinya. Waktu menunjukan pukul 12.00 dan jantungku makin berdebar menunggu ucapan darinya, handphone ku standby menggu dering telpon panggilan darinya. lilin yang telah terpasang rapi aku nyalakan dengan korek kayu, redup-redup ingin mati karena lilinya yang terlalu keci. Lampu kamar aku matikan, biar makin syahdu malam ini.  Waktu di handphone kuliha 12.15 hatiku mulai cemas, tak ada panggilan dari siapapun malam ini.Pukul 12.25 dini hari, aku semakin cemas menantikan malam ini. Tak terbayangkan bagaimana rasanya berada dikamar gelap ini sendiri dan tanpa seseorang yang menghiraukan malam ini, malam yang seharusnya begitu spesial untuku.  Lilin diatas kue telah mati. aku menyerah untuk menunggu. Tak kusadari air mata ku menetes dalam kegelapan malam. Di dalam pikiranku seseorang yang ku tunggu teryata tak hadir dalam malam ku sehingga membuat malam ini begitu gelap, meski sebenarnya kamar ini telah begitu gelap. "betapa sedihnya" malam ini hari ulang tahunku yang ke 19 menjadi malam paling menyedihkan. akhirnya, dengan kesenduanku aku berdoa yang terbaik bagi diriku, orang-orang disekelilingku dan masa depanku. Setelah mencoba mengusap air mata, dan menghidupkan kembali lampu kamar yang gelap kemudian ku bereskan kue dan lilin yang mulai mencair menyatu telah dingin membeku.

***

Keesokan sore harinya. setelah aku pulang dari kuliah di kampus yang begitu melelahkan.
"non, ada paket nih" kata bu inah, pemilik kost-kostan yang ku tinggali ini.
" oh ya bu, paket apa?" tanyaku heran.
"ibu tidak tahu, dibuka saja sendiri" sembari diberikanya sebuah kotak yang terlihat besar tetapi ringan.
"terimakasih ya bu."

Tak ada pikiran apapun tentang kotak ini, aku tak berpikir "dia" yang akan memberikan padaku. seseorang yang kunantikan tadi malam. Tak ku duga, sebuah bunga dan ucapan ulang tahun yang begitu membuatku bingung hingga berlinang air mataku. Masih banyak kisah yang entah berapa juta orang yang mengalaminya, tetapi harus ku alami hari ini.

Sebuah bunga dan selembar potongan kertas kartu ucapan, tertulis

" I love you.
 Good bye."


Dulu dia yang ku kenal sebagai seorang yang begitu baik kini telah pergi dengan pilihanya yang tak ku mengerti. Semenjak hari dimana aku merelakan meninggalkanku dengan sepucuk bunga yang mulai layu. Terimakasih tuhan, engkau telah mengajarkan aku untuk lebih dewasa.

"Sekarang aku yakin bahwa jika kita berjalan di jalan yang benar, maka Allah akan selalu mempermudah semua urusan kita. Semua manusia pasti pernah khilaf, tetapi jangan pernah buang waktu untuk cepat-cepat berubah. Walaupun harus berjuang sendiri dulu, pasti Allah sudah menyiapkan orang yang tepat untukkita, tapi itu nanti."


Menunggu ayah pulang.

Siang itu, selepas pulang sekolah. Rumah kecil ini begitu terasa luas lantaran hanya ada kami berdua yaitu aku dan adiku. Sebuah televisi tabung 21 inci yang remotnya sering terselip tertata rapi pada buffet diruang keluarga. Tv ini meenjadi satu-satunya hiburan kami sekeluarga setelah pulang dari aktifitas hiruk pikuk. Sofa yang cukup empuk dan segelas minuman ringan menemani siang ini bersama acara televisi acara makan-makan yang penyiarnya selalu saja bilang “enak” meski baru satu suap. Di ruang ini remote tv terkadang menjadi seperti benda ghaib yang kasap mata karena sering terselip dibawa kemana-mana. Chanel tv selalu ku ganti setiap kali iklan untuk mencari siaran televisi yang masih menghibur.   
“ ayah kapan pulang yah dik? “ tanya ku
“ tadi pagi sih ayah bilang kalau akan lembur kak, mungkin setelah jam 5 baru sampai dirumah”
Kami baik-baik saja. Hanya saja memang percakapan kami tak begitu intens, kita lebih focus kepada televisi. Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.
“tok, tok, tok” ketukan pintu terdengar memecah focus kita.
“assalamualaikum,..” sembari pintu dibuka.
Ternyata ibu yang baru saja membuka pintu. Kami pikir ada sales yang menawarkan panci. Biasanya kalo sales panci yang mengetuk ibu selalu bilang “ibu sedang tidur”. Meski kami bohong kepada sales, tapi ini demi kebaikan kami yang berada dirumah. Sudah banyak berita-berita tertipu penipuan berkedok sales panci, meski tak begitu semua sales ditolak. Sales yang masih terlihat baik-baik saja dan hanya ingin menjelaskan produknya tetap ibu terima. Pada akhirnya panci dirumah atau perabotan dapur lain bertambah dan tetap saja jarang digunakan karena ibu lebih suka membeli makanan jadi dari pada memasaknya.
“ ayah belum pulang dik?” Tanya ibu.
“ belum” jawab adiku.
“ oh ya, ibu bawa nasi padang untuk kalian. Pasti kalian belum makan kan ? “
Inilah yang kami tunggu-tunggu, nasi padang dengan kuah santan yang menggiurkan. Sudah sering ibu pulang jam segini dengan membawa makanan yang selalu enak-enak. Ya, tentu saja enak karena kami makan saat perut benar-benar kelaparan. kami selalu bersyukur dalam menunggu ayah pulang banyak hal yang selalu membuat keluarga ini begitu ku rindu meski dengan kesibukan masing-masing.
Begitulah siang kami dirumah sederhana ini.  
To be continue.