Menunggu ayah pulang.

Sabtu, Oktober 08, 2016 0 Comments A+ a-

Siang itu, selepas pulang sekolah. Rumah kecil ini begitu terasa luas lantaran hanya ada kami berdua yaitu aku dan adiku. Sebuah televisi tabung 21 inci yang remotnya sering terselip tertata rapi pada buffet diruang keluarga. Tv ini meenjadi satu-satunya hiburan kami sekeluarga setelah pulang dari aktifitas hiruk pikuk. Sofa yang cukup empuk dan segelas minuman ringan menemani siang ini bersama acara televisi acara makan-makan yang penyiarnya selalu saja bilang “enak” meski baru satu suap. Di ruang ini remote tv terkadang menjadi seperti benda ghaib yang kasap mata karena sering terselip dibawa kemana-mana. Chanel tv selalu ku ganti setiap kali iklan untuk mencari siaran televisi yang masih menghibur.   
“ ayah kapan pulang yah dik? “ tanya ku
“ tadi pagi sih ayah bilang kalau akan lembur kak, mungkin setelah jam 5 baru sampai dirumah”
Kami baik-baik saja. Hanya saja memang percakapan kami tak begitu intens, kita lebih focus kepada televisi. Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.
“tok, tok, tok” ketukan pintu terdengar memecah focus kita.
“assalamualaikum,..” sembari pintu dibuka.
Ternyata ibu yang baru saja membuka pintu. Kami pikir ada sales yang menawarkan panci. Biasanya kalo sales panci yang mengetuk ibu selalu bilang “ibu sedang tidur”. Meski kami bohong kepada sales, tapi ini demi kebaikan kami yang berada dirumah. Sudah banyak berita-berita tertipu penipuan berkedok sales panci, meski tak begitu semua sales ditolak. Sales yang masih terlihat baik-baik saja dan hanya ingin menjelaskan produknya tetap ibu terima. Pada akhirnya panci dirumah atau perabotan dapur lain bertambah dan tetap saja jarang digunakan karena ibu lebih suka membeli makanan jadi dari pada memasaknya.
“ ayah belum pulang dik?” Tanya ibu.
“ belum” jawab adiku.
“ oh ya, ibu bawa nasi padang untuk kalian. Pasti kalian belum makan kan ? “
Inilah yang kami tunggu-tunggu, nasi padang dengan kuah santan yang menggiurkan. Sudah sering ibu pulang jam segini dengan membawa makanan yang selalu enak-enak. Ya, tentu saja enak karena kami makan saat perut benar-benar kelaparan. kami selalu bersyukur dalam menunggu ayah pulang banyak hal yang selalu membuat keluarga ini begitu ku rindu meski dengan kesibukan masing-masing.
Begitulah siang kami dirumah sederhana ini.  
To be continue.

terimakasih atas kritik dan saran serta komentarnya yah, :) thanks,...